Penelusuran Makam "Muyang Tuan Di Pulau" Campang Tiga


www.okutimurnews.id - Beberapa waktu yang lalu kami bersama keluarga berkunjung ke Makan Said Hamim Gelar Tuan di Pulau, Sebelum kita menuju ke makan Tuan diPulau yang terletak di Wilayah desa Campang Tiga dusun Negri Sakti.

Menuju makan ini enaknya naik ponton atau biduk yang di beri mesin sebagai motor penggerak, 

Mari kita simak bersama sejarah Asal mula terbentuknya Desa Campang Tiga ini, merupakan hasil dari pemikiran orang orang terdahulu, yang berjuang disamping menyebarkan agama Islam. Menurut asal mulanya seorang puyang yang bernama sultan Hamimum Hamim (SAID Hamim) atau Tuan di Pulau, yang menurut ceritanya dari nenek moyang di Campang Tiga berasal dari keturuna Arab. Pada Masa itu Puyang menetap disuatu tempat dan lahan tanah yang dikelilingi oleh sungai dan Rawa.

Desa ini bernama Simpang Tiga, karena terletak di persimpangan tig arah. Pada masa itu pimpinan agama dipegang oleh Puyang ratu nyaman dibagian barat, Puyang Tanda Pasai dibagian timur, Puyang tuan syeh abdurrahman di bagian utara, dan Puyang Panghalu Sabtu dibagian Selatan.

Waktu terus berlalu dan berjalan dengan baik, pemerintahan di pegang oleh Ratu nyaman, Setelah beliu meninggal kemudian digantikan putranya ahmad daud, Pada Masa waktu itu desa yang namanya simpang tiga atas musywarah dan mufakat oleh tokoh agama, adat dan pemerintah diubah menjadi Campang Tiga.

Silsilah Puyang Tuan dipulau

Sementara Sriwijaya sendiri, berdasarkan naskah lokal, yang diriwayatkan oleh H. Arlan Ismail, putera Kiai Haji Khatib Ismail Alhafidzh, dalam bukunya Periodisasi Sejarah Sriwijaya (Universitas Tridinanti Press : 2003) pada awal mulanya, berpusat di Minanga, Komering Ulu, Sumatera Selatan, daerah yang kini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur. Hal yang menarik pula, pada wilayah Minanga dan sekitarnya itu kini, faktanya, seperti pada gapura atau gerbang beberapa masjid desa, meski pemekaran kabupaten sejak 2004, tulisan OKU tidak diganti dengan OKU Timur. Tampaknya, ada kesan historis yang tak ingin dihilangkan. 

Hal baru yang penulis temukan, bahwa di Komering Ulu ini, persinya di daerah Betung, tak jauh dari Minanga, ternyata ada sosok luhur (keramat) yang pada kisaran Abad 13 Masehi itu telah datang berkunjung. Sosok yang sebagaimana riwayat lokal yang penulis dapatkan, disebut sebagai Junjungan Sayyid Hamim Ukasyah Sulthan Negeri Pasai. Makam tokoh ini terletak di bagian depan komplek Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Desa Campang Tiga, Kecamatan Cempaka, Kabupaten OKU Timur. Daerah makam itu disebut oleh masyarakat lokal dengan Pasai. Tak jauh dari makam, terdapat Masjid Arrahman (yang di gapuranya hingga kini juga masih tertulis OKU) milik Desa Gunung Jati.

Sementara menyebrang Sungai Komering, di wilayah Campang Tiga, juga terdapat makam bersejarah tokoh keramat yang bernama Said Hamim gelar Tuan di Pulau. Hal yang menarik juga dan menjadi perhatian kami, mengapa sosok Junjungan Sayyid Hamim Ukasyah Sulthan Negeri Pasai tidak lebih terkenal dari sosok Said Hamim gelar Tuan di Pulau? Padahal, dari riwayat yang sama yaitu dari bapak Khairul Ahmad, sosok Junjungan Sayyid Hamim disebut sebagai “Guru Wali”, sementara sosok Said Hamim gelar Tuan di Pulau berdasarkan riwayatnya yang ditulis Ahmad Azharie, adalah putera bungsu dari Sayyid Syarif Hidayatullah gelar Sunan Gunung Jati. 

Dalam riwayat yang berbentuk silsilah itu, Tuan di Pulau ini merupakan adik dari Puteri Kembang Dadar yang bermakam di Bukit Siguntang, Palembang. Selanjutnya, di samping kedua tokoh ini, di Komering Ulu, tepatnya kawasan Minganga dan sekitarnya, dikenal juga dua orang tokoh lainnya. Yaitu Al Habib Ahmad Alaydrusy Darussalam gelar Tanjung Idrussalam yang bermakam di Desa Adu Manis dan Tuan Umar Baginda Shalih yang bermakam di Desa Rasuan. Kedua tokoh ini, diriwayatkan sezaman dengan tokoh Tuan di Pulau.

Previous
« Prev Post
Show comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *